Rabu, 13 Maret 2013

KUALITAS PENDIDIKAN INDONESIA SUATU REFLEKSI Oleh: Yohanes Sudaryono FIC. Perkembangan kualitas pendidikan di Indonesia telah berlangsung dalam empat era yaitu : 1). Era kolonial, 2). Era Orde Lama, 3). Era Orde Baru. 4). Era Reformasi. A. Era Kolonial Pada jaman kolonial pendidikan hanya diberikan kepada para penguasa serta kaum feodal. Pendidikan rakyat cukup diberikan untuk memenuhi kebutuhan dasar penguasa kolonial. Pendidikan diberikan hanya terbatas kepada rakyat di sekolah-sekolah kelas 2 atau ongko loro tidak diragukan mutunya. Sungguhpun standar yang dipakai untuk mengukur kualitas rakyat pada waktu itu diragukan karena sebagian besar rakyat tidak memperoleh pendidikan, namun demikian apa yang diperoleh pendidikan seperti pendidikan rakyat 3 tahun, pendidikan rakyat 5 tahun, telah menghasilkan pemimpin masyarakat bahkan menghasilkan pemimpin-pemimpin gerakan nasional. Pendidikan kolonial untuk golongan bangsawan serta penguasa tidak diragukan lagi mutunya. Para pemimpin nasional kita kebanyakan memperoleh pendidikan di sekolah-sekolah kolonial bahkan beberapa mahasiswa yang dapat melanjutkan di Universitas terkenal di Eropa. Dalam sejarah pendidikan kita dapat katakana bahwa intelegensi bangsa Indonesia tidak kalah dengan kaum penjajah. Masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia pada waktu itu adalah kekurangan kesempatan yang sama yang diberikan kepada semua anak bangsa. Oleh sebab itu di dalam Undang Undang Dasar 1945 dinyatakan dengan tegas bahwa pemerintah akan menyusun suatu sistem pendidikaan nasional untuk rakyat, untuk semua bangsa. B. Era Orde Lama Masa revolusi pendidikan nasional mulai meletakkan dasar-dasarnya. Pada masa revolusi sangat terasa serba terbatas, tetapi bangsa kita dapat melaksanakan pendidikan nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam UUD 1945. Kita dapat merumuskan Undang Undang Pendidikan No. 4/1950 junto no. 12/ 1954. Kita dapat membangun sistem pendidikan yang tidak kalah mutunya. Para pengajar, pelajar melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya walaupun serba terbatas. Dengan segala keterbatasan itu memupuk pemimpin-pemimpin nasional yang dapat mengatasi masa pancaroba seperti rongrongan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sayang sekali pada akhir era ini pendidikan kemudian dimasuki oleh politik praktis atau mulai dijadikan kendaraan politik. Pada masa itu dimulai pendidikan indoktrinasi yaitu menjadikan pendidikan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan Orde Lama. Pada Orde Lama sudah mulai diadakan ujian-ujian negara yang terpusat dengan sistem kolonial yang serba ketat tetapi tetap jujur dan mempertahankan kualitas. Hal ini didukung karena jumlah sekolah belum begitu banyak dan guru-guru yang ditempa pada zaman kolonial. Pada zaman itu siswa dan guru dituntut disiplin tinggi. Guru belum berorientasi kepada yang material tetapi kepada yang ideal. Citra guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang diciptakaan era Orde Baru sebenarnya telah dikembangkan pada Orde Lama. Kebijakan yang diambil pada Orde Lama dalam bidang pendidikan tinggi yaitu mendirikan universitas di setiap provinsi. Kebijakan ini bertujuan untuk lebih memberikan kesempatan memperoleh pendidikan tinggi. Pada waktu itu pendidikan tinggi yang bermutu terdapat di Pulau Jawa seperti UI, IPB, ITB, Gajah Mada, dan UNAIR, sedangkan di provinsi-provinsi karena kurangnya persiapan dosen dan keterbatasaan sarana dan prasarana mengakibatkan kemerosotan mutu pendidikan tinggi mulai terjadi. C. Era Orde Baru Dalam era ini dikenal sebagai era pembangunan nasional. Dalam bidang pembangunan pendidikan, khususnya pendidikan dasar terjadi suatu loncatan yang sangat signifikan dengan adanya INPRES Pendidikan Dasar. Tetapi sayang sekali INPRES Pendidikan Dasar belum ditindaklanjuti dengan peningkatan kualitas tetapi baru kuantitas. Selain itu sistem ujian negara (EBTANAS) telah berubah menjadi bumerang yaitu penentuan kelulusan siswa menurut rumus-rumus tertentu. Akhirnya di tiap-tiap lembaga pendidikan sekolah berusaha untuk meluluskan siswanya 100%. Hal ini berakibat pada suatu pembohongan publik dan dirinya sendiri dalam masyarakat. Oleh sebab itu era Orde Baru pendidikan telah dijadikan sebagai indikator palsu mengenai keberhasilan pemerintah dalam pembangunan. Dalam era pembangunan nasional selama lima REPELITA yang ditekankan ialah pembangunan ekonomi sebagai salah satu dari TRILOGI pembangunan. Maka kemerosotan pendidikan nasional telah berlangsung. Dari hasil manipulasi ujian nasional sekolah dasar kemudian meningkat ke sekolah menengah dan kemudian meningkat ke sekolah menengah tingkat atas dan selanjutnya berpengaruh pada mutu pendidikan tinggi. Walaupun pada waktu itu pendidikan tinggi memiliki otonomi dengan mengadakan ujian masuk melalui UMPTN, tetapi hal tersebut tidak menolong. Pada akhirnya hasil EBTANAS juga dijadikan indikator penerimaan di perguruan tinggi. Untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi maka pendidikan tinggi negeri mulai mengadakan penelusuran minat dari para siswa SMA yang berpotensi. Cara tersebut kemudian diikuti oleh pendidikan tinggi lainnya. Di samping perkembangan pendidikan tinggi dengan usahanya untuk mempertahankan dan meningkatkan mutunya pada masa Orde Baru muncul gejala yaitu tumbuhnya perguruan tinggi swasta dalam berbagai bentuk. Hal ini berdampak pada mutu perguruan semakin menurun walaupun dibentuk KOPERTIS-KOPERTIS sebagai bentuk birokrasi baru. D. Era Reformasi Indonesia sejak tahun 1998 merupakan era transisi dengan tumbuhnya proses demokrasi. Demokrasi juga telah memasuki dunia pendidikan nasional antara lain dengan lahirnya Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam bidang pendidikan bukan lagi merupakan tanggung jawab pemerintah pusat tetapi diserahkan kepada tanggung jawab pemerintah daerah sebagaimana diatur dalam Undang – Undang No 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, hanya beberapa fungsi saja yang tetap berada di tangan pemerintah pusat. Perubahan dari sistem yang sentralisasi ke desentralisasi akan membawa konsekuensi-konsekuensi yang jauh di dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Selain perubahan dari sentralisasi ke desentralisasi yang membawa banyak perubahan juga bagaimana untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia dalam menghadapi persaingan bebas abad ke-21. Kebutuhan ini ditampung dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, serta pentingnya tenaga guru dan dosen sebagai ujung tombak dari reformasi pendidikan nasional. Sistem Pendidikan Nasional Era Reformasi yang diatur dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 diuraikan dalam indikator-indikator akan keberhasilan atau kegagalannya, maka lahirlah Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang kemudian dijelaskan dalam Permendiknas RI. Di dalam masyarakat Indonesia dewasa ini muncul banyak kritikan baik dari praktisi pendidikan maupun dari kalangan pengamat pendidikan mengenai pendidikan nasional yang tidak mempunyai arah yang jelas. Dunia pendidikan sekarang ini bukan merupakan pemersatu bangsa tetapi merupakan suatu ajang pertikaian dan persemaian manusia-manusiaa yang berdiri sendiri dalam arti yang sempit, mementingkan diri dan kelompok. Menurut H.A.R. Tilaar, hal tersebut disebabkan adanya dua kekuatan besar yaitu kekuatan politik dan kekuatan ekonomi. Kekuatan Politik : Pendidikan masuk dalam subordinasi dari kekuatan-kekuatan politik praktis, yang berarti pendidikan telah dimasukkan ke dalam perebutan kekuasaan partai-partai politik, untuk kepentingan kekuatan golongannya. Pandangan politik ditentukan oleh dua paradigma yaitu paradigma teknologi dan paradigma ekonomi. Paradigma teknologi mengedepankan pembangunan fisik yang menjamin kenyaman hidup manusia. Paradigma ekonomi lebih mengedepankan pencapaian kehidupan modern dalam arti pemenuhan-pemenuhan kehidupan materiil dan mengesampingkan kebutuhan non materiil duniawi. Contoh pengembangan dana 20 %. Kekuatan Ekonomi: Manusia Indonesia tidak terlepas dari modernisasi seperti teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Neoliberalisme pendidikan membawa dampak positif dan negatif. Positifnya yaitu pendidikan menunjang perbaikan hidup dan nilai negatifnya yaitu mempersempit tujuan pendidikan atas pertimbangan efisiensi, produksi, dan menghasilkan manusia-manusia yang dapat bersaing, yaitu pada profit orientit yang mencari keuntungan sebesar-besarnya terhadap investasi yang dilaksanakan dalam bidang pendidikan. Demi mencapai efisiensi dan kualitas pendidikan maka disusunlah beberapa upaya standardisasi. Untuk usaha tersebut maka muncul konsep-konsep seperti : Ujian Nasional. Dalam menyusun RENSTRA Departemen Pendidikan Nasional tahun 2005 – 2009 lebih menekankan pada manajemen dan kepemeimpinan bukan masalah pokok yaitu pengembangan anak Indonesia. Anak Indonesia dijadikan obyek, anak Indonesia bukan merupakan suatu proses humanisasi atau pemanusiaan. Anak Indonesia dijadikan alat untuk menggulirkan suatu tujuan ekonomis yaitu pertumbuhan, keterampilan, penguasaan skil yang dituntut dalam pertumbuhan ekonomi [Millist CFBE] Ditulis dalam Artilel & Opini « Mengembalikan Pendidikan Sebagai Prioritas Peradaban Bangsa Tulisan Berikutnya »


13592907952075663177
Sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas merupakan motor penggerakkemajuan pembangunan bangsa. Persaingan global pada tahun 2013 ini semakin ketat, oleh sebab itu dibutuhkan SDM yang berkualitas untuk membangun bangsa agar bisa bersaing dengan negara lain baik dalam sektor ekonomi, sosial, politik maupun pertahanan dan keamanan. SDM Indonesia boleh dikata masih tertinggal dengan  negara lain, hal ini dikarenakan tingkat pendidikan dan kesehatan di Indonesia yang masih rendah. Oleh karena itu, peningkatan pembanguna kesehatan dan pendidikan sangat penting untuk mendorong pembentukan SDM Indonesia yang berkualitas.Peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan seharusnya menempati posisi penting dalam setiap rancangan pembangunan nasional.
Peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan perlu diupayakan melalui peningkatan kualitas dan akses terhadap layanan pendidikan dan kesehatan di seluruh pelosok Indonesia. Saat ini permasalahan yang dihadapi terkait pendidikan di Indonesia diantaranya belum meratanya kesempatan memperoleh pendidikan, belum meratanya jumlah guru dan tenaga pengajar, masih terbatasnya kualitas sarana dan prasarana pendidikan dan belum terwujudnya pembiayaan pendidikan yang adil bagi masyarakat. Sementara itu permasalahan yang dihadapi terkait kesehatan di Indonesia diantaranya masih rendahnya akses masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan yang berkualitas, belum optimalnya upaya pengendalian penyakit di beberapa daerah, masih rendahnya profesionalisme dan pendayagunaan tenaga kesehatan yang merata ke pelosok nusantara serta masih terbatasnya pembiayaan kesehatan untuk memberikan jaminan perlindungan kesehatan bagi seluruh masyarakat.
Melalui lomba yang diselenggarakan oleh Kompasiana dan Pertamina untuk menjadikan Indonesia lebih baik dengan tema apaidemu, saya mencoba mengakat masalah ini dan mencoba mengajak kita bersama untuk ikut membantu memecahkan permasalah tersebut. Saat ini cadangan minyak bumi sebagai sumber energi semakin menurun, kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) di dunia dan khususnya di Indonesia semakin meningkat. Pemerintah mengeluarkan anggaran yang sangat besar untuk pengadaan BBM. Pemerintah menganggarkan berapa persen sendiri anggaran dana dari APBN untuk subsidi BBM (premium), yang seharusnya anggaran dana dari APBN itu bisa digunakan seoptimal dan semaksimal mungkin untuk perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan di Indonesia yang masih rendah. Bagaimana Indonesia bisa membentuk SDM yang berkualitas kalau pelayanan pendidikan dan kesehatannya masih sangat rendah. Perlu ketegasan dari pemerintah dan kesadaran dari masyarakat untuk mulai mengurangi dan meninggalkan pemakaian BBM bersubsidi (premium) dan memakai BBM non subsidi (pertamax dll), sehingga APBN untuk pengadaan BBM bisa ditekan dan digunakan semaksimal mungkin untukperbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan di Indonesia.
Pemerintah dan pertamina diharapkan rutin dan interaktif dalam mempromosikan, mensosialisasikan dan mengajak masyarakat luas untuk menggunakan pertamax. Pertamina diharapkan lebih sering mengadakan even-even yang melibatkan masyarakat luas seperti jalan sehat, bakti social, penghijauan, pengobatan gratis dan sebagainya. Pertamina diharapkan mampu mensponsori berbagai macam kegiatan-kegiatan sehingga semakin banyak masyarakat yang mengenal dan menggunakan pertamax. Pertamina diharapkan mampu bekerjasama dengan pemerintah untuk memfasilitasi pembangunan gedung-gedung pusat studi, pusat kesehatan dan rumah sakit. Beberapa alternatif lain yang dapat dilakukan untuk mengajak masyarakat memakai pertamax terkait perannya dalam pendidikan dan kesehatan diantaranya :
1.  Beasiswa Pertamax
Beasiswa ini diberikan kepada masyarakat yang tidak mampu agar bisa menuntaskan wajib belajar 9 tahun, diberikan kepada pelajar atau mahasiswa tidak mampu dan yang ingin meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi serta diberikan kepada siswa dan mahasiswa yang berprestasi di bidangnya.
2. Olimpiade Pertamax
Olimpiade pertamax ini diharapkan dapat dilaksanakan dari tingkat SD, SMP, SMA sampai ke tingkat universitas seperti OSNPTI yang biasa berlangsung di tingkat universitas.
3. Pertamax Award
Pertamax award ini merupakan penghargaan yang dianugrahkan kepada orang-orang yang berjasa di bidang pendidikan dan kesehatan.
4. Kartu Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) Pertamax
Kartu Jamkesmas ini merupakan bentuk kerjasama pertamina dengan pemerintah untuk memberiakan jaminan kesehatan bagi masyarakat tidak mampu sehingga masyarakat bisa merasakan langsung dampak positif dari hasil pembelian dan penjualan pertamax di tanah air
5. Pertamax Masuk Desa & Kota
Ini merupakan bentuk kerjasama pertamina dengan pemerintah juga untuk membantu mengupayakan penyediaan sumber air bersih di daerah-daerah yang minim air bersih dan jauh dari sumber mata air serta mengupayakan penyediaan akses sumber air minum dan sanitasi yang layak di beberapa daerah, desa-desa dan kota-kota besar.
6. Taman Pintar / Rumah Pintar Pertamax
Pertamina diharapkan berinisiatif membangun sebuah taman pintar / rumah pintar yang di dalamnya terdapat banyak ruangan yang berisi edukasi dan game yang terkait dengan usaha pertamina untuk membuat indonesia yang lebih baik. Di dalamnya berisi dan memaparkan sejarah pertamina, tentang BBM pertamax dari mulai pengertiannya, pembuatannya, cara kerjanya dan manfaatnya yang bisa dipaparkan atau dituangkan melalui multi media (video) yang interaktif, ada simulasi kerjanya pertamax pada mesin, ada prototipe kendaraan dan lain sebagainya. Ruangannya juga bisa dibuat seperti museum yang berisi koleksi barang dan program-program pertamina, program dan kerjasama pertamina dengan pemerintah di berbagai bidang yang diperlihatkan dalam koleksi foto, video maupun prototipe yang interaktif. Diharapkan dengan adanya sarana (taman pintar /rumah pintar) masyarakat menjadi lebih mengenal pertamax, mengenal lingkungan, bagaimana manfaatnya kedepan dan sebagainya.
Diharapkan dengan program-program tersebut bisa membantu membangun, memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat sehingga tercipta SDM Indonesia yang berkualitas yang mampu bersaing dengan Negara lain di era globalisasi saat ini.
Demikian tulisan dari saya tentang apaidemu ,semoga bisa bermanfaat bagi pembaca sekalian. Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar